Wisata Kampung Pecinan Pertama Di Palembang

Bertempat di seberang Benteng Kuto Besak, di tepi Sungai Musi, terdapat kampung pecinan yang digadang-gadang pertama ada di dataran Palembang, Sumatera Selatan. Di sana, berdiri dua bangunan kuno yang sangat identik. Dua bangunan itu dikelilingi rumah-rumah kecil berinterior oriental.

Bisa dijelaskan sedikit, dua bangunan yang paling besar memiliki atap berbentuk limasan dan gentingnya pun model lampau. Secara interior, dua bangunan ini paling menonjol apalagi dengan jembatan di atas jalan menuju perkampungan yang menggabungkan rumah besar satu dengan rumah besar lainnya.

Perlu Anda tahu, rumah ini menjadi salah satu pusat perhatian ketika turis berkunjung. Kenyang menyantap pempek, mengunjungi kampung ini menjadi alternatif wisata yang bisa dicoba! Konon, rumah ini pemiliknya adalah Perwira Tjoa, perwira Tiongkok dari Dinasti Ming. Dia juga lah yang membawa peradaban Tionghoa pertama di tanah Sriwijaya.

Tjoa, yang biasa disapa dengan Kapitan ternyata pernah didapuk sebagai pengatur wilayah pada zaman Belanda. Saat Okezone mengunjungi kampung ini, pria bernama Eng Sui menyambut dengan ramah. Tidak sembarang orang, Eng Sui adalah suami dari cucu Tjoa dari generasi ke-14. “Ayo masuk,” ucapnya menyambut.

Kalimat sambutan yang kemudian mengagetkan Okezone adalah, “Kalian tahu kampung ini dari mana?” tanya Eng Sui penasaran. Cerita demi cerita dia ungkapkan dengan cukup detail. Salah satunya masalah seberapa pengaruhnya Kapitan di tanah Palembang.

“Pada masa jayanya, Kapitan memboyong keluarganya ke tepi Sungai Musi ini. Tidak hanya membawa raga, dia juga membawa rupang (patung dewa, Red), dan beberapa pusaka lainnya yang berharga ke rumah ini langsung dari Tiongkok,” ungkap Eng Sui yang kini berusia 69 tahun.

Singkat cerita, Kapitan beranak-cucu di Palembang. Kampung Kapitan pun berdiri seiring kehidupan Tjoa di sana semakin jaya. Rumah-rumah kecil dibangun dengan cita rasa Tiongkok yang sangat kental. Bahkan, pagoda kecil ditempatkan di halaman depan rumahnya. Ya, agar bisa menghapus rindu akan kampung halaman.

Menurut Eng Sui, keluarga Kapitan masih banyak yang menetap di Kampung Kapitan, Palembang. “Saya sendiri berasal dari keluarga generasi ke-16. Sudah ratusan tahun kami ada di sini memang,” kata Eng.

Bicara mengenai kondisi rumah besar Tjoa, secara keseluruhan tampak depan, Anda akan melihat rumah panggung yang masih berdiri kokoh. Salah satu dari rumah besar Kapitan berhasil direnovasi pemerintah setempat dan beberapa pihak lainnya yang membantu. Perbedaan yang cukup terlihat dari warna dinding.

Dua bangunan besar itu ternyata memiiki fungsi yang berbeda. Bangunan yang belum direnovasi besar-besaran adalah kediaman Kapitan pada masanya. Namun, bangunan ini sekarang menjadi rumah peribadatan pada dewa bagi keluarga Kapitan. Beberapa rupang asli China diletakkan di sana. Cukup megah dengan altar yang sangat besar.

Foto-foto keluarga Tjoa dan tentunya sosok Kapitan sengaja di letakkan di setiap sisi bangunan. Ada satu hal yang akan Anda alami. Seperti Eng yang mengajak Okezone melihat “keanehan” foto Kapitan.

“Ayo sini. Coba lihat sepatu Kapitan mengarah ke mana dari posisi kamu berdiri sekarang. Perhatikan dengan jelas, lalu kamu jalan ke arah sebrangnya. Jangan kaget kalau nanti sepatunya mengikuti kamu,” tantang Eng pada Okezone. Benar! Sepatunya ikut berpindah posisi. Pun juga mata Kapitan yang selalu mengawasi pengunjungnya.

“Lukisan ini sudah ada 100 tahun yang lalu. Semua ornamennya masih terjaga dan saya sendiri tidak tahu kenapa hal aneh tersebut bisa terjadi,” ucapnya lantas tertawa kecil.

Sementara itu, untuk rumah besar yang satunya, diperuntukan Kapitan untuk tempat bekerjanya. Jadi, aktivitas dia selama di tanah Palembang dlakukan sepenuhnya di rumah yang sudah direnovasi tersebut. Untuk sekarang, rumah itu digunakan sebagai rumah ibadah para keluhur.

Dekorasi bagian dalam rumah ini pun berbeda dari sebelumnya. Foto-foto leluhur Kapitan terpajang di semua sisi. Bahkan, ada juga leluhur Kapitan yang sudah sangat tua di belakang altar leluhur.

Sedikit informasi, ada 48 leluhur yang kemudian disembah di dalam rumah ini. Hal ini juga terlihat dari adanya 48 cangkir berisi teh yang diletakkan di altar leluhur. “Kami akan selalu menjaga tradisi ini, termasuk leluhur kami sendiri,” ungkap Eng.

Rumah Kapitan ramai menjelang Imlek. Beberapa persiapan juga sudah dilakukan. Seperti menyiapkan kertas kuning untuk sembahyang Hari Imlek atau juga panganan yang siap disantap saat Imlek yang dirayakan hari ini, Jumat (16/2/2018). Ikut merayakan Imlek di Kampung Kapitan, Palembang, Sumsel, menjadi pengalaman yang menarik!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *